Obat Mahal Punya Efek Memiskinkan

26 Jul

Obat Mahal Punya Efek Memiskinkan

Daftar Harga Obat – Kenaikan inflasi serta cost produksi jadi argumen produsen obat untuk menambah harga obat yang beberapa besar masih tetap dijamin dengan pribadi oleh orang-orang Indonesia. Mengakibatkan, mahalnya harga obat yang perlu ditebus pasien makin menaikkan beban hidup.

Di Indonesia, komponen cost obat dapat menjangkau 45 % dari keseluruhan cost kesehatan. Dalam satu studi yang dikerjakan oleh WHO pada sebagian masyarakat negara berkembang, termasuk juga Indonesia, tersingkap ada dampak memiskinkan dari beli obat.

Jadi contoh yaitu obat diabetes glibenclamide. Sekitaran 36 % orang-orang yang pendapatannya kurang dari 2 dollar AS (Rp 18. 000) jadi bertambah miskin sesudah beli obat originator (off paten). Disamping itu, bila beli obat generik glibenclamide, cuma 6 % yang jadi bertambah miskin.

Mengenai menurut survey Health Action International pada harga sebagian type obat didunia, tersingkap kalau untuk beli obat type Ciprofloxacin orginitator (paten), orang-orang mesti keluarkan uang setara dengan gaji mereka bekerja sepanjang 10 hari. Untuk obat generiknya, cost yang dibayarkan setara dengan sehari kerja.

” Di sebagian negara seperti Armenia serta Kenya, harga obat ini jadi setara dengan sebulan upah. Walau sebenarnya, obat Ciprofloxacin ini yaitu obat infeksi yang perlu selalu dikonsumsi sepanjang 7 hari, ” kata Nani Sukasediati dari WHO Indonesia dalam acara komunitas diskusi bertopik ” Akses Pada Obat di Indonesia ” yang diselenggarakan oleh GlaxoSmithKline (GSK) di Jakarta, Kamis (27/10/2011).

Yang memprihatinkan, harga sebagian obat generik bermerek di Indonesia tambah lebih mahal di banding obat paten. Walau sebenarnya, menurut Kent K Sarosa, Business Unit Director GSK, obat generik bermerek itu cuma mengikuti formula obat dari obat paten yang telah habis masa patennya. Diluar itu, harga obat generik bermerek jauh diatas harga obat generik walau berisi sama.

” Penetapan harga obat generik bermerek lihat harga obat paten baru di turunkan 30-80 %. Tetapi, obat mengikuti yang mengedar disini dapat lebih mahal dari obat paten, ” tuturnya dalam acara yang sama.

Ia berikan contoh harga amoxil originator cuma di bandrol Rp 1. 682. Tetapi, untuk obat generik bermereknya dapat lebih dari Rp 2. 000 per tablet.

Menurut Nani, dalam resolusi World Health Assembly (dewan teratas WHO), telah di buat referensi untuk perusahaan farmasi serta industri berkaitan untuk mengaplikasikan kebijakan aplikasi harga berjenjang di negara-negara berkembang.

Menurut Ken, GSK mengaplikasikan resolusi itu dengan kurangi harga obat patennya di Indonesia 30-80 %. ” Obat-obatan yang prevalensi penyakitnya tinggi, seperti asma serta antibiotik, termasuk juga obat yang penurunan harga nya banyak, ” tuturnya.

Kebijakan penurunan harga obat itu, menurutnya, adalah kebijakan GSK global. ” Pemilihan harga obat sesuai dengan pendapatan masyarakat di satu negara. Untuk obat yang sama, harga obat di Indonesia tambah lebih murah dari pada harga di Singapura atau negara maju yang lain, ” tuturnya.

Dengan penurunan harga, keinginan serta daya beli orang-orang diinginkan bertambah. ” Begitu, harga produksi dapat di turunkan. Hal semacam ini tidak kurangi keuntungan kami, ” ungkapsnya.

Nani memberikan, terkecuali harga yang terjangkau, ada tiga pilar perlu dalam membuat akses pada obat, yaitu penentuan type obat yang rasional, pembiayaan kesehatan yang berkaitan, serta system kesehatan yang mendukung. Baca Juga Obat Tradisional di : https://hargaobat.net