Persediaan Air Jakarta

6 Dec

Persediaan Air Jakarta

Persediaan air

BACA JUGA : situscekresi.com

Untuk rincian lebih lanjut tentang topik ini, lihat Privatisasi Air di Jakarta.
Dua perusahaan swasta, PALYJA dan Aetra, menyediakan pasokan air pipa di bagian barat dan timur Jakarta masing-masing di bawah kontrak konsesi 25 tahun yang ditandatangani pada tahun 1998. Perusahaan induk aset publik yang disebut PAM Jaya memiliki infrastrukturnya. 80% air yang didistribusikan di Jakarta datang melalui sistem Kanal Tarum Barat dari Waduk Jatiluhur di Sungai Citarum 70 km (43 mi) tenggara kota. Pasokan air telah diprivatisasi oleh pemerintah pada saat itu Presiden Suharto pada tahun 1998 ke perusahaan Prancis Suez Environnement dan perusahaan Inggris Thames Water International. Kedua perusahaan asing tersebut kemudian menjual konsesi mereka kepada perusahaan-perusahaan Indonesia. Pertumbuhan pelanggan di 7 tahun pertama konsesi telah lebih rendah dari sebelumnya, meskipun kenaikan tarif yang disesuaikan dengan inflasi meningkat selama periode ini. Pada tahun 2005, tarif dibekukan, menyebabkan perusahaan air minum swasta mengurangi investasi.

Menurut PALYJA di bagian barat konsesi, rasio cakupan layanan meningkat secara substansial dari 34% di tahun 1998 menjadi 59% di tahun 2007 dan 65% di tahun 2010. Menurut data Badan Regulator Pasokan Air Jakarta, akses di bagian timur kota yang dilayani oleh PTJ meningkat dari sekitar 57% di tahun 1998 menjadi sekitar 67% di tahun 2004, namun mengalami stagnasi setelah itu. Namun, sumber lain menyebutkan jumlah akses yang jauh lebih rendah untuk pasokan air pipa ke rumah-rumah, tidak termasuk akses yang diberikan melalui hidran publik: Satu studi memperkirakan akses serendah 25% pada tahun 2005, sementara sumber lain memperkirakan akan mencapai 18,5% di tahun 2011. Mereka yang tidak memiliki akses terhadap pasokan air pipa mendapatkan air dari sumur yang sering asin dan tercemar bakteri. Pada 2017, menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Jakarta mengalami krisis air bersih.
Untuk rincian lebih lanjut tentang topik ini, lihat Privatisasi Air di Jakarta.
Dua perusahaan swasta, PALYJA dan Aetra, menyediakan pasokan air pipa di bagian barat dan timur Jakarta masing-masing di bawah kontrak konsesi 25 tahun yang ditandatangani pada tahun 1998. Perusahaan induk aset publik yang disebut PAM Jaya memiliki infrastrukturnya. 80% air yang didistribusikan di Jakarta datang melalui sistem Kanal Tarum Barat dari Waduk Jatiluhur di Sungai Citarum 70 km (43 mi) tenggara kota. Pasokan air telah diprivatisasi oleh pemerintah pada saat itu Presiden Suharto pada tahun 1998 ke perusahaan Prancis Suez Environnement dan perusahaan Inggris Thames Water International. Kedua perusahaan asing tersebut kemudian menjual konsesi mereka kepada perusahaan-perusahaan Indonesia. Pertumbuhan pelanggan di 7 tahun pertama konsesi telah lebih rendah dari sebelumnya, meskipun kenaikan tarif yang disesuaikan dengan inflasi meningkat selama periode ini. Pada tahun 2005, tarif dibekukan, menyebabkan perusahaan air minum swasta mengurangi investasi.

BACA JUGA : Situs Cek Resi

Menurut PALYJA di bagian barat konsesi, rasio cakupan layanan meningkat secara substansial dari 34% di tahun 1998 menjadi 59% di tahun 2007 dan 65% di tahun 2010. [143] Menurut data Badan Regulator Pasokan Air Jakarta, akses di bagian timur kota yang dilayani oleh PTJ meningkat dari sekitar 57% di tahun 1998 menjadi sekitar 67% di tahun 2004, namun mengalami stagnasi setelah itu. [144] Namun, sumber lain menyebutkan jumlah akses yang jauh lebih rendah untuk pasokan air pipa ke rumah-rumah, tidak termasuk akses yang diberikan melalui hidran publik: Satu studi memperkirakan akses serendah 25% pada tahun 2005, [145] sementara sumber lain memperkirakan akan mencapai 18,5% di tahun 2011. [146] Mereka yang tidak memiliki akses terhadap pasokan air pipa mendapatkan air dari sumur yang sering asin dan tercemar bakteri. Pada 2017, menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Jakarta mengalami krisis air bersih. [147]