Situasi Politik di Indonesia saat Ini Dari Pandangan Pribadi

14 Jul

Situasi Politik di Indonesia saat Ini Dari Pandangan Pribadi

Situasi Politik di Indonesia – Sebuah momen yang ada di dunia ini sebetulnya cuma pengulangan saja dari momen masa lalu yang disebut “sejarah” ,cuma pelaku,waktu dan tempatnya saja berubah atau tak sama. Untuk itulah mayoritas orang kemudian belajar seputar sejarah,agar dalam perjalanan waktu yang dicapainya tak mengulangi lagi momen yang pernah terjadi,terpenting momen-momen yang tak mengenakkan.

Tetapi, bagi anda penikmat berita politik ada kalanya juga orang sengaja menjalankan pengulangan dengan niat untuk mengkoreksi atas momen yang pernah terjadi atau juga menjalankan “balas dendam” atas momen masa lalu yang pendapatnya atau para fansnya (apabila dirinya seorang tokoh & pemimpin massa) dapat dimenangkan sekiranya dikala itu mereka tak menderita kekalahan atau ditumbangkan. Oleh sebab itu, betul-betul hal yang aneh dan menjadi berita aneh sekiranya dalam membaca kondisi perpolitikan yang terjadi di tanah air kini ini, orang juga belajar dari sejarah politik bangsa Indonesia.

Contoh atau sosok tokoh bangsa Indonesia :

Negara Indonesia sudah dipimpin oleh 6 orang Presiden, serta Jokowi menjadi Presiden ke-7 yang kini ini masih sebagai Presiden Indonesia. Dari 6 presiden yang sudah memimpin Republik Indonesia, sosok atau contoh simpel pernah diperlihatkan oleh Soekarno, Soeharto, Gus Dur ; Meskipun contoh BJ Habibie,Megawati dan SBY menampakkan contoh yang berpenampilan betul-betul berbeda dengan ketiga pemimpin dahulunya. Presiden Jokowi kini ini lebih memilih penampilan seperti Soekarno, Soeharto dan Gus Dur saat membawa diri dalam pergaulan antar bangsa dan bernegara. Itulah pendapat yang terwujud di masyarakat dalam memandang sosok 7 presiden yang sudah memimpin negeri ini.

 

Pemanis Tulisan

Mengapa contoh dibahas dalam hal ini? Karena kondisi politik di Indonesia tidak lepas dari contoh yang ditampilkan. Sosok Jokowi dengan SBY seperti bumi dan langit. Dalam perkembangan 2 tahun lebih pemerintahan Jokowi,hiruk-pikuk politik menjadi kian panas sebab kedua sosok ini tampil berbeda. Pro-kontra yang terjadi di dunia media sosial juga kerap kali membahas kedua contoh hal yang demikian dengan betul-betul tajam ; Hingga hari ini memang menonjol sosok Jokowi menonjol unggul sebab penampilannya yang simpel,sehingga apa saja kekurangan dalam pemerintahannya kini “tertutup” dengan contoh Jokowi.

Walau dalam beberapa hal, nilai Jokowi dalam bagian ekonomi, keamanan, politik tak lebih bagus dari rapor pemerintahan SBY. Mengapa contoh Jokowi seperti itu memikat…? Sebab dalam bentuknya, Jokowi lebih mempersonifikasikan sebagai “rakyat” ketimbang seorang pemimpin yang digambarkan banyak orang penuh dengan kewibawaan dalam berdiskusi,gagah dalam berpenampilan dan tak terkesan sedang “dipegang” namun “membatasi” . Contoh Jokowi inilah yang membantu dirinya jauh dari kritik “haus kekuasaan” atau terlibat dalam masalah atau informasi korupsi yang kerap kali menimpa para presiden Indonesia atau orang sekitaran dalamnya.

Berbeda dengan SBY,informasi skandal dan informasi korupsi dalam pemerintahan jangka waktu keduanya membawa bobot berat sehingga hantaman “hoax” kerap kali menimpanya dikala berkuasa ataupun sesudah dirinya tak berkuasa. Cara tata tertib sebab terlibat korupsi yang menyeret orang-orang di lingkaran dalamnya,membikin orang kemudian memperhatikan keluarga SBY sebagai komponen dari skandal hal yang demikian (buku Gurita dari Cikeas,dan lain-lain) ; Penampilan atau sosok SBY yang menampakkan “wah” seringkali menjadi pembanding dengan tokoh Jokowi yang simpel.

Bicara tokoh atau contoh SBY dengan Jokowi dapat membikin masyarakat terbagi atau membingungkan secara politik, apalagi apabila dibumbui hal-hal skandal korupsi. Keadilan politik menjadi melarikan diri. Bayangkan masalah korupsi yakni sebuah pengerjaan tata tertib,namun ditarik sedemikian rupa menjadi informasi politik cuma untuk menjatuhkan citra SBY.  Meski secara tata tertib belum ada satupun pengerjaan tata tertib yang mengungkapkan bahwa SBY atau keluarganya bersalah sebab skandal korupsi,namun informasi-informasi atau artikel yang memojokkan di media sosial memang dapat membikin kuping merah dibuatnya ; Apalagi apabila disandingkan dengan sosok Presiden Jokowi ,terang ini sebuah penghilangan nyawa orang lain karakter yang betul-betul mujarab.

Sebab malah bertanya,siapa sebetulnya sutradara atau pembuat skenario ini? Karena dalam hal nilai pemerintahan,terang Jokowi juga belum menampilkan pencapaian dalam ekonomi, keamanan dan politik yang meningkat ini? Apakah Jokowi diperlihatkan untuk menohok SBY ataukah untuk membikin Indonesia tumbuh menjadi bangsa yang kuat secara ekonomin dan aman di dalam negerinya serta kondusif kondisi politiknya? Apakah ini cuma politik “balas dendam” tokoh Megawati Soekarnoputri atau lawan-lawan SBY yang meminjam tangan bapak Jokowi? Hal ini tentu saja mampu terjawab saat suatu hari nanti.

Masalah penuntasan HAM dalalu, kasus BLBI di era kepemimpinan Megawati Soekarnoputri, ekonomi yang tidak stabil masih menjadi “Gampang Rumah” bagi Jokowi untuk memecahkannya ; Jelas-mudahan “pertikaian” yang menonjol di perpolitikan dengan SBY bukan sebuah pengalihan informasi. Paham,sosok Jokowi yang simpel dan menonjol jujur lebih unggul dari SBY yang telah mempimpin selama 10 tahun,namun di balik pemerintahan Jokowi juga semestinya dipandang bahwa kasus korupsi yang melibatkan anggota PDIP di Nganjuk dan Klaten juga semestinya disoroti sebagai sesuatu yang tak lazim,karena mereka kecuali sebagai Bupati Nganjuk & Bupati Klaten juga pengurus PDIP di tingkat DPD/DPC ; Maksudnya, jangan mengamati di permukaan saja yang menonjol bersih,apabila rupanya dalamnya rupanya “keruh” juga!

Keadaan & pemikiran Komunis :

Tulisan politik yang muncul di tanah air juga menjadi panas sesudah semenjak pertengahan tahun 2016 berkembang informasi bangkitnya orang-orang yang berafilasi komunis. Melainkan seputar perkembangan kebangkitan mengerti komunis di Indonesia telah cukup banyak berhembus semenjak itu. Padahal yang betul-betul heran yakni informasi kebangkitan mengerti komunis atau pemahaman-pemahaman serta tindakan politik komunis kurang memperoleh reaksi dari aparat keamanan di Indonesia. Meski TNI/Polri menjadi ujung tombak yang paling depan sekiranya informasi adanya kebangkitan komunisme di Indonesia berkembang luas. Apakah informasi komunisme ini memang sedikit berlebihan ataukah informasi radikalisme Islam lebih menarik?

Paham sekali bahwa Partai Komunis Indonesia memang telah tak ada & tak relevan lagi dimunculkan di bumi Indonesia. Padahal mengerti & pemikiran komunis serta tindakan politik komunis dapat dinikmati oleh siapa saja di Indonesia, walau mereka berada tidak dalam komunitas dan bendera PKI. Sebab-orang yang selama ini mengeluarkan pemikiran dan tindakan politik komunis dapat dinikmati via kesibukan politiknya yang arahnya senantiasa mengadu-domba para tokoh negeri, mengaduk-aduk dengan mengeluarkan “hoax” untuk saling menjatuhkan, keinginan memimpin dengan mengatas-namakan “wong cilik” ,dan lainnya.

Tindakan politik komunis bisa dipelajari dari salah satu informasi sejarah Mao Tze Dong – Ketua Partai Komunis Cina  dalam menghancurkan Pemerintahan Nasionalis tahun 1949 yang lampau. Tidak pula dengan sejarah pertikaian PKI dengan tokoh Islam di Indonesia,dapat menjadi rujukan berhubungan kebangkitan mengerti, paham dan tindakan politik komunis di Indonesia. Apakah mereka sungguh-sungguh bangkit? Seharusnya aparat intelijen telah mengecup hal hal yang demikian bilamana memang betul terjadi tersebut.

Terang, sebagian waktu yang lalu informasi kebangkitan komunisme telah di reaksi oleh PDIP sebagai parpol yang paling terkena dampaknya dengan informasi kebangkitan komunisme di Indonesia. Megawati Soekarnoputri hingga mengeluarkan surat edaran yang menyangkal bahwa PDIP berhubungan dengan PKI dan ajaran Komunisme, ini membuktikan bahwa informasi kebangkitan komunis di Indonesia bisa mewujudkan Indonesia dalam kondisi politik yang membahayakan bagi kesatuan & persatuan negeri.

Oleh sebab itu, penjelasan aparat Polri/TNI berhubungan pertumbuhan mengerti komunis di Indonesia memang dibutuhkan untuk menekan tensi ketegangan politik yang terjadi, bukan penjelasan bahwa PKI telah tak ada,namun ada atau tidaknya paham & tindakan politik komunis sehingga rakyat hingga dalam posisi diadu-domba seperti itu rupa sehingga gampang akan perselisihan horisontal,

Politik ras juga kian meningkat belakangan ini.  Dapat dikesampingkan, tampilnya & perilaku politik Basuki Tjahaja Purnama (BTP) dalam pentas politik di Jakarta dan Indonesia membawa pengaruh luas dalam politik sektarian bagus dari klasifikasi Islam ataupun klasifikasi Nasrani dan suku Tionghoa di negeri ini.  Yang diperlihatkan secara politik oleh BTP dengan saling melakukan atas apa yang yang dilaksanakan oleh golongan yang tak menyenangi dirinya,menjadi informasi politik yang tak bagus di Indonesia. Membawa informasi kasus tata tertib yang menimpa BTP ke posisi kebhinekaan, NKRI dan SARA itu mirip saja membawa Indonesia “set back” kedahulu ketahun sebelum Proklamasi Kemerdekaan sampai timbulnya pertikaian besar di tahun 1965 dan kerusuhan SARA di era kepemimpinan Soeharto.

Ini akan memunculkan benih radikalisme berkembang kencang di tanah air serta akan menyusahkan aparat keamanan dalam menjalankan deradikalisme seperti yang waktu ini dilaksanakan oleh BNPT .  Heran mengapa banyak fitnah diberikan kepemerintahan Jokowi atau sebagian pribadi yang selama ini dianggap mereka yang berafilasi kepada AHok ; Sekali lagi masyarakat cuma membaca kondisi bukan paham yang sebetulnya,sehingga tak dapat disalahkan informasi itu menyebar luas, seperti halnya informasi kepada eks presiden SBY yang juga difitnah dalam media sosial selama ini.

Oleh sebab itu, politik ras tak boleh dimaksimalkan,siapa saja yang membawa politik sektarian semestinya disikat habis, apakah itu klasifikasi Nasrani Islam Tionghoa maupun golongan suku-suku lain di Indonesia. NKRI yakni harga mati yang tak boleh digoyah oleh tindakan politik komunis, ras dan yang menonjol bersih meskipun dalamnya bobrok! Dikutip dari berbagai sumber seperti koompasii