Surat Terakhir Untuk Mantan

23 Nov

Surat Terakhir Untuk Mantan

surat ini kutulis dan Hari ini aku ingat. Hari saat kamu tak bersamaku lagi. Aneh! aku tak menangis. Padahal aku masih mencintaimu. Aneh! aku tak bersuara memanggil namamu, padahal hatiku pedih karena sikapmu. Bayangmu semakin menghilang di ujung sana, disebuah perempatan. Lelaki itu memanggilkku. Panggilan yang mesra. Aku menyambutnya dan hanya terduduk memunggungimu.

Saya tau anda geram. Serta anda pastinya akan begitu geram bila anda masih tetap bersamaku kurun waktu yang lama. Waktu itu anda sendiri yang memohonku temanimu. Anda menginginkan ke toko buku, serta tidak ada orang yang temanimu. Rumahmu jauh, saya tau itu. Anda bela-belain datang ke rumahku, cuma untuk mengajakku temanimu. Rumahku, ya rumahku. Tempat tinggal yang sepanjang empat th. rajin kau kunjungi. Waktu itu saya mengharapkan senyummu ada cuma untukku. Tidak seperti saat ini, anda cuma mengernyitkan pojok bibirmu untukku. Okelah, tidak problem. Bukanlah karna saya masih tetap mencintaimu. Sekali lagi juga, masih tetap berhakkah saya geram? Toh, kita saat ini hanya sepenggal cerita masa kemarin.

Saya lari ke peraduanku. Mataku terpejam walau tidak butuh. Tidak ada lampu di sini. Pejamkan mata atau tidak, tidak ada bedanya. Saya mulai coba mengingat semuanya masa kita, dengan terlebih dulu mengatakan lima huruf namamu. Ada rasa cinta yang mengalir. Tetapi rasa-rasanya, dingin, perih, berombak-ombak. Lalu, bermuara di dada.

PUTUS!!! Mulutmu mengeluarkannya. Saya diam saja. Tak tahu telah berapakah kali kata itu terucap dari bibirmu. Serta tak tahu telah beberapa kali juga saya menyebutkan kepadamu, jangan sampai main- main dengan kata ” Putus “. Seperti lelaki kekanakkan yang masih tetap ABG. Kesempatan ini saya katakan ya sembari lihat anda melemparkan saya satu boneka teddy bear pemberianmu di depanku. Telah, kita mengakhiri cukup hingga di sini, supaya tidak ada hati sekali lagi yang terluka nantinya.

Pada malam itu, kembali saya teringat beberapa masalah pada saya denganmu, serta keluargamu yang bila saya fikirkan, tidak juga akan ada ujungnya. Dengan menyatukan puing-puing asaku yang hilang, saya luangkan menulis luapan hati paling akhir yang menginginkan kutulis mengenai dirimu.

Sayangku…

Anda tidak sempat jadi dewasa. Anda tidak mengizinkanku sharing maaf denganmu atas apa yang sudah kita lewati sampai kini. Tak tahu telah berapakah kali kita berkelahi karna keluargamu untuk melambangkan perlawanan juga akan penindasan cinta kita. Tetapi engkau senantiasa menyalahkanku. Anda berfikir akulah yang tidak pas dengan keluargamu.

Sayangku…

Anda bahagia sekarang ini, kan? Senyum pipi chubby-mu menggembung. Matamu jadi membesar. Mengisikan keceriaan juga akan masa depanmu. Masa depan yang dikehendaki serta dirancangkan keluargamu, bukanlah denganku. Seseorang wanita disampingmu, berbalut gaun putih yang indah. Himpunan beragam bunga teratur indah. Berselimut kain serta benang tidak sering ada ditanganmu. Saya ikut bahagia juga untuk kamu. Tidak terucap, tetapi rasakan dihatimu. Saya kirim degup jantungku. Telah terasakah? Mengertikah anda, degup jantung kita sama. Itu kata yang senantiasa anda katakan saat saya tengah sedih. Degup jantung ini sebahagia dirimu. Anda memanglah layak bahagia sesudah apa yang kita alami berbuntut tidak ada penambahan.

Tidak sempat terpikir saya untuk menyumpahimu walau kau berkali-kali menyakitiku, menyebutkan putus, serta pada akhirnya pergi meninggalkanku dengan sejuta luka yang masih tetap ku rasakan perihnya, karna saya memujamu. Tidak layak saya menyesali kepergianmu karna engkau senantiasa dekat dengan jiwaku. Malam itu, di rawa itu. Saya meninggalkan lukaku. Menguburnya di rerimbunan ilalang setinggiku. Saya bangkit sekali lagi. Menyalakan semangatku untuk mengambil langkah maju.

Saya masih tetap menggigil menunggu sinar didalam kamar. Satu kesadaran hampiri, memberitakan kalau hal kalau besok anda tidak juga akan sempat sekali lagi menemuiku. Besok, anda bukanlah sekali lagi milikku selama-lamanya.

Sesudah satu tahun lebih berlalu, rawa itu tidak ada sekali lagi. Kau menggantikannya dengan membuat tempat tinggal seratus mtr. persegi keatas menggantikannya. Cintaku, jalan masa lalu kita, lukaku, hancurku, serta tanaman rinduku telah tidak berbekas. Waktu saya memikirkan paling akhir kali saya menyampirkan kepalaku di pundakmu. Tak tahu saya lega atau tidak atas perpisahan kita saat itu.

Saya tutup laptop. Kata paling akhir telah saya catat. Kata perpisahan untukmu sepanjang saya hidup di bumi. Saya mengantuk tanpa ada menguap. Lalu kuhampiri jendela yang dingin tertimpa angin semilir.

Sebelumnya mata ini terpejam, lagi kusenandungkan doa untuk kebahagiaanmu, mantanku. Payung hujan keputus asaanku, lewat hembusan nafas. Selamat tidur, anda adalah hal terindah dalam hidupku. Bila engkau mati sebelumnya saya, saya berjanji untuk datang ke pemakamanmu. Saya juga akan menempatkan segerombolan mawar. (Eh.. masih tetap ingatkah anda waktu anda menempatkan mawar dimuka rumahku. Malamnya saya telepon anda untuk bertanya apakah anda yang menempatkannya?)

Saya mencintaimu dengan semua kekuranganku….

Saya menyayangimu dengan bertandingk kuat selalu….

Kusebut namamu disetiap ulang tahunmu…

Kuingat darahku memanas melihat penggantiku…

Kutata doa untuk sang Maha Kuasa…

Maafkan saya yang talah menyakitimu…

Janganlah catat dosaku atas rintihan air matamu…

Kalkulasilah nafasku jadi ganti nafas dia…